Yaman mulai memasuki fase baru pembangunan setelah bertahun-tahun terjebak konflik berkepanjangan. Dorongan terbaru datang dari paket bantuan pembangunan berskala besar yang difokuskan pada pemulihan layanan dasar dan penguatan infrastruktur sipil di berbagai provinsi strategis.
Pemerintah di Aden menilai bantuan tersebut sebagai sinyal kuat pergeseran prioritas dari sekadar stabilisasi keamanan menuju pemulihan ekonomi dan sosial. Pembangunan kembali fasilitas publik dipandang sebagai fondasi penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Bantuan bernilai sekitar 1,9 miliar riyal Saudi ini diberikan oleh Arab Saudi melalui program dukungan pembangunan jangka menengah. Fokusnya mencakup energi, air bersih, kesehatan, pendidikan, serta transportasi udara dan darat.
Salah satu langkah paling krusial adalah penyediaan bantuan produk turunan minyak bumi untuk mengoperasikan pembangkit listrik di berbagai provinsi. Ketersediaan listrik dinilai sebagai prasyarat utama bagi pemulihan industri, layanan kesehatan, dan aktivitas rumah tangga.
Di sektor air bersih, proyek pembangunan pabrik desalinasi bertenaga surya di Aden disebut sebagai terobosan penting. Fasilitas ini akan menjadi yang pertama di Yaman yang sepenuhnya memanfaatkan energi terbarukan untuk penyediaan air minum.
Sektor kesehatan mendapat porsi signifikan dalam paket bantuan ini. Operasional Rumah Sakit Pangeran Mohammed bin Salman di Aden akan dijamin selama tiga tahun, memastikan layanan medis rujukan tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran negara.
Di wilayah timur, Kota Medis dan Pendidikan Raja Salman di Al Mahrah juga akan dioperasikan selama tiga tahun ke depan. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat setempat pada layanan kesehatan lintas negara.
Selain itu, pembangunan Rumah Sakit Universitas Hadramaut menjadi simbol kebangkitan sektor pendidikan tinggi medis di Yaman. Proyek ini diproyeksikan menjadi pusat pelatihan tenaga kesehatan regional.
Rumah sakit pedesaan juga menjadi perhatian, termasuk pembangunan Rumah Sakit Al Saleh di wilayah pedalaman serta Rumah Sakit Al Ain di Taiz. Pendekatan ini menunjukkan upaya pemerataan layanan kesehatan hingga ke daerah nonperkotaan.
Di Shabwa, operasional rumah sakit yang sebelumnya terhenti akibat konflik akan kembali diaktifkan. Sementara itu, di Marib, pembangunan dan pengadaan fasilitas Rumah Sakit Saba diharapkan menopang kebutuhan wilayah yang menjadi tujuan migrasi internal.
Perhatian terhadap ibu dan anak tercermin dari rencana pembangunan pusat kesehatan ibu dan anak serta unit gawat darurat persalinan di Lahj. Program ini diarahkan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi yang meningkat selama masa perang.
Sektor transportasi udara juga masuk dalam agenda prioritas melalui rehabilitasi Bandara Aden. Landasan pacu akan dibangun ulang dan dilengkapi sistem navigasi serta komunikasi modern untuk meningkatkan keselamatan penerbangan.
Pembangunan infrastruktur jalan turut digenjot, khususnya peningkatan jalan pegunungan di Aden yang menjadi jalur vital distribusi logistik. Proyek ini diharapkan memangkas biaya transportasi dan waktu tempuh.
Di wilayah timur, jalan Al Abr–Seiyun akan direhabilitasi dan ditingkatkan kapasitasnya. Jalur ini memiliki arti strategis karena menghubungkan pusat-pusat ekonomi Hadramaut dengan wilayah lain.
Sektor pendidikan tidak luput dari perhatian melalui pembangunan institut teknis dan fakultas keguruan di Sokotra. Langkah ini dipandang penting untuk mencetak sumber daya manusia lokal yang siap membangun daerahnya sendiri.
Selain pendidikan tinggi, program pembangunan 30 sekolah di berbagai provinsi dirancang berlangsung bertahap dengan target sepuluh sekolah per tahun. Distribusi sekolah ini mencakup wilayah pesisir hingga kepulauan terpencil.
Di Sokotra, pembangunan Masjid Penjaga Dua Tanah Suci menjadi bagian dari proyek sosial dan keagamaan. Bangunan ini direncanakan menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat setempat.
Keseluruhan proyek tersebut akan dilaksanakan di sepuluh provinsi, mulai dari Aden hingga Taiz. Cakupan geografis yang luas mencerminkan pendekatan pembangunan nasional, bukan sektoral semata.
Para pengamat menilai bantuan ini tidak hanya berdampak pada pemulihan fisik, tetapi juga berpotensi memperkuat legitimasi institusi negara. Kehadiran layanan publik yang berfungsi normal dianggap kunci menekan fragmentasi sosial.
Ke depan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada stabilitas keamanan dan tata kelola yang transparan. Namun bagi banyak warga Yaman, gelombang pembangunan ini menandai awal harapan baru setelah satu dekade ketidakpastian.
loading...

Tidak ada komentar:
Write komentar