Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2016

Holding dan Waralaba: Perbedaan Muhammadiyah dan NU Menurut Kalla

    14.15   No comments

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut dua organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, punya sistem pengelolaan yang berbeda dalam kewirausahaan.

JK—sapaan akrab Jusuf Kalla—mengatakan Muhammadiyah punya sistem seperti holding company dan manajemen yang baik. JK mencontohkan rumah sakit Muhammadiyah yang pasiennya luar biasa banyak. Sedangkan pengelolaan wirausaha Nahdlatul Ulama seperti franchise.

Yang punya usaha di NU rata-rata merupakan kiai. "Dua-duanya perlu spirit kewirausahaan. NU perlu diperbaiki manajemennya," kata JK ketika membuka acara Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah di Hotel Sahid Rich Yogyakarta, Sabtu, 14 Mei 2016.

Selain JK, ada beberapa tokoh yang datang, di antaranya Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir. Setidaknya, ada 600 orang datang dalam acara tersebut. Jaringan Muhammadiyah terdiri atas saudagar Muhammadiyah dari seluruh Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan masyarakat hendaknya meningkatkan etos produksi ketimbang etos konsumtif. Etos itu menyangkut spirit yang tumbuh dari dalam untuk menjadi mandiri, sukses, dan mampu bersaing. Haedar melihat etos masyarakat untuk bertahan hidup menurun. Misalnya, orang mengikuti budaya instan, anak muda mencapai sesuatu dengan jalan instan.

Menurut dia, kalangan pengusaha Muhammadiyah kehilangan momentum untuk membangun kultur wirausaha. Dia mendorong kalangan Muhammadiyah untuk memulai membikin banyak usaha, perorangan, ataupun unit-unit bisnis. Misalnya bisnis hotel, tempat wisata, percetakan, dan waralaba. "Ini rintisan awal untuk membangun etos saudagar bisnis," kata Haedar.

Ketua panitia acara, Herry Zudianto, mengatakan temu jaringan saudagar Muhammadiyah bertujuan menguatkan jaringan saudagar. Harapannya, Muhammadiyah bisa bersaing dari sisi bisnis, profesionalisme usaha, dan bersaing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. (more)


Perumahan Islami | Bisnis Bakrie | Bisnis Kalla | Rancang Ulang | Bisnis Khairul Tanjung | Chow Kit | Pengusaha | Ayo Buka Toko | Wisata | Medco

Selasa, 16 Februari 2010

Aksa Mahmud, Dari Jurnalis ke Raja Bisnis Timur

    08.48   No comments

Aksa Mahmud bukan nama asing dalam dunia bisnis nasional. Sosoknya dikenal sebagai pendiri Bosowa Group, salah satu konglomerasi besar yang lahir dari timur Indonesia. Perjalanan kariernya mencerminkan tekad dan keberanian untuk mengambil jalan yang tidak biasa, bahkan setelah sempat merasakan dinginnya jeruji tahanan militer. Masa itu menjadi titik balik dalam hidupnya untuk meninggalkan dunia jurnalistik dan menapaki dunia usaha yang kelak membesarkan namanya.

Karier Aksa Mahmud sebagai jurnalis dimulai bersama rekan-rekannya di Koran Mahasiswa Indonesia yang terbit di Sulawesi Selatan. Namun setelah keluar dari tahanan Kodam, ia merasa harus melepaskan dunia pers yang pernah dicintainya. Dunia telah berubah, dan ia menyadari ada panggilan baru dalam hidupnya yang harus dijawab dengan sepenuh hati. Ia tak berlama-lama terjebak dalam penyesalan, melainkan segera melangkah maju mencari arah baru.

Perjalanan barunya dimulai dari titik yang cukup unik. Seorang sahabat lamanya, Jusuf Kalla, mengulurkan tangan. Jusuf Kalla, anak dari Haji Kalla, pengusaha besar Sulawesi Selatan, mengajaknya bergabung di Dolog Makassar. Tak lama berselang, Aksa juga ikut terlibat dalam kegiatan bisnis keluarga Kalla, yakni NV Haji Kalla, perusahaan yang telah mapan di kawasan tersebut.

Di perusahaan milik keluarga Kalla, Aksa Mahmud mendapat banyak pengalaman berharga. Ia menyerap ilmu bisnis langsung dari para pelaku lapangan, mempelajari bagaimana perusahaan beroperasi, membangun jaringan, dan menangani tantangan-tantangan nyata dalam dunia dagang. Tiga tahun ia menekuni peran ini, cukup lama untuk mengasah naluri bisnisnya, namun juga cukup untuk menyadari bahwa ia ingin berdiri sendiri.

Setelah berpamitan secara baik-baik dari perusahaan yang juga milik mertuanya, Aksa Mahmud memutuskan untuk memulai perjalanannya sendiri. Ia mendirikan usaha baru yang bermula dari sektor transportasi dan perdagangan. Dengan semangat dan kerja keras, perlahan-lahan usahanya tumbuh. Nama Bosowa mulai dikenal sebagai entitas bisnis yang serius dan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan dari barat Indonesia.

Tak butuh waktu lama, Bosowa Group berkembang pesat. Aksa Mahmud berhasil membangun jaringan bisnis yang solid, dengan lini usaha yang mencakup otomotif, semen, jasa keuangan, konstruksi, properti, hingga infrastruktur. Bisnisnya merambah banyak sektor strategis dan memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia Timur.

Keberhasilan Aksa Mahmud tidak hanya datang dari kecerdasannya membaca peluang, tetapi juga dari etos kerja yang disiplin dan semangat kewirausahaan yang tinggi. Ia menunjukkan bahwa seorang anak daerah dapat membangun imperium bisnis tanpa harus berpindah ke Jakarta, asalkan punya visi, keberanian, dan kemauan belajar tanpa henti.

Bosowa Group menjadi simbol kebangkitan ekonomi dari luar Jawa. Aksa Mahmud berhasil membuktikan bahwa pusat kekuatan bisnis tidak harus terpusat di satu pulau. Ia menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, dan membantu pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, yang sebelumnya kerap tertinggal.

Hubungannya dengan Jusuf Kalla tetap terjalin erat, bahkan ketika keduanya sudah menempuh jalur berbeda. Jusuf Kalla menjadi tokoh nasional dan menjabat dua kali sebagai Wakil Presiden RI, sementara Aksa Mahmud menekuni peran sebagai pebisnis dan juga sempat masuk ke dalam lingkaran legislatif sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah.

Meski tak lagi berada dalam ranah jurnalistik, Aksa Mahmud tetap membawa semangat independen dan objektif dalam menjalankan bisnis. Prinsipnya yang teguh dan integritas yang dijaga menjadikan dirinya sosok yang disegani, tidak hanya di kalangan pengusaha, tetapi juga oleh tokoh-tokoh nasional.

Perjalanan panjang Bosowa tidak selalu mulus. Seperti perusahaan lain, mereka juga menghadapi krisis dan dinamika pasar. Namun ketangguhan Aksa dalam menjaga arah dan komitmen perusahaan membuat Bosowa tetap berdiri kokoh hingga hari ini. Ia menekankan pentingnya adaptasi dalam bisnis, tanpa melupakan akar dan nilai-nilai yang membentuk identitas perusahaan.

Kini, Bosowa Group telah menjadi pemain penting dalam ekonomi nasional, terutama dalam kontribusinya di sektor semen dan konstruksi. Produknya digunakan di berbagai proyek besar nasional dan infrastruktur strategis. Ini menunjukkan bahwa perusahaan yang lahir dari semangat daerah bisa bersaing secara nasional.

Nama Aksa Mahmud pun tidak lekang oleh waktu. Ia telah menulis cerita sukses yang menjadi inspirasi banyak pengusaha muda, terutama dari luar Jawa. Kisahnya mengajarkan bahwa asal usul bukan penghalang untuk tumbuh besar, justru bisa menjadi pijakan untuk menantang dominasi lama dan menciptakan sejarah baru.

Dengan umur yang terus bertambah, Aksa mulai memberikan peran kepada generasi penerus. Namun jejaknya tetap menjadi kompas bagi arah Bosowa Group ke depan. Ia meyakini bahwa regenerasi bukan sekadar pergantian peran, tetapi transfer nilai dan semangat yang harus dijaga lintas generasi.

Kisah hidup Aksa Mahmud tak ubahnya cermin dari semangat Indonesia yang sejati. Dimulai dari titik nol, mengalami ujian hidup, hingga membangun bisnis yang bermanfaat luas bagi masyarakat. Ia menjelma dari jurnalis idealis menjadi pebisnis visioner yang tak melupakan asal dan tujuan perjuangannya.

Kini, ketika nama Bosowa bergema di berbagai sektor, banyak yang mungkin tak tahu bahwa semuanya bermula dari keputusan berani seorang mantan wartawan yang menolak untuk menyerah pada keadaan. Aksa Mahmud telah membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh besar, bahkan dari ujung timur negeri.

Dibuat oleh AI

Kalla Group, Warisan Tiga Generasi dari Timur

    08.47   No comments


Jusuf Kalla kembali menegaskan bahwa keberhasilan bisnis keluarganya, Kalla Group, bukanlah hasil instan ataupun limpahan kekuasaan semata. Dalam sambutannya saat meresmikan Kalla Tower, gedung perkantoran setinggi 15 lantai di Jalan Sam Ratulangi, Makassar, ia mengurai perjalanan panjang perusahaan yang telah bertahan dan tumbuh selama lebih dari enam dekade. Pernyataannya menjadi penegasan bahwa kerja keras dan konsistensi adalah fondasi utama dari keberhasilan jangka panjang.

Kalla Group, yang kini menjadi salah satu konglomerasi paling berpengaruh dari luar Pulau Jawa, telah melewati tiga generasi dalam perjalanannya. Dimulai dari ayahanda JK, Hadji Kalla, perusahaan ini awalnya berdiri sebagai NV Hadji Kalla Trading Company pada 1923. Fokus utama kala itu adalah perdagangan hasil bumi, tekstil, dan bahan bangunan, dengan basis utama di Makassar, kota pelabuhan penting di Indonesia Timur.

Ketika memasuki generasi kedua, Jusuf Kalla mengambil alih dan mulai membawa perusahaan ke arah yang lebih modern. Salah satu langkah penting yang diambilnya adalah masuk ke bisnis otomotif. Dengan menggandeng Toyota, Kalla Group berhasil menjadi diler utama di Sulawesi Selatan, Tenggara, Barat, dan Tengah. Ekspansi ini menjadi tulang punggung utama pertumbuhan bisnis keluarga selama puluhan tahun berikutnya.

Dalam kesempatan peresmian Kalla Tower itu, JK juga menyinggung pentingnya filosofi bisnis yang adaptif. Ia menekankan bahwa perusahaan harus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat. Itulah sebabnya Kalla Group terus berekspansi ke berbagai sektor lain, mulai dari energi, logistik, properti, pendidikan, hingga infrastruktur. Menurutnya, relevansi terhadap zaman adalah kunci bertahan di tengah kompetisi yang makin ketat.

Gedung Kalla Tower yang baru saja diresmikan menjadi simbol transformasi Kalla Group. Bangunan ini bukan sekadar kantor, tetapi menjadi representasi kerja keras dan kebanggaan daerah. JK mengaku sengaja menempatkan kantor pusat di Makassar sebagai bentuk komitmen bahwa perusahaan dari luar Jakarta juga bisa tumbuh dan berkontribusi secara nasional. "Di Jakarta cukup kantor perwakilan saja," ujarnya dengan tegas.

Peresmian Kalla Tower juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting nasional, seperti pemilik Bosowa Aksa Mahmud, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, hingga para mantan menteri dan pimpinan BUMN. Kehadiran mereka memperlihatkan jaringan luas dan pengaruh Kalla Group dalam percaturan ekonomi dan sosial Indonesia. Grup ini bukan hanya pemain bisnis, tetapi juga institusi yang dihormati.

JK mengatakan bahwa ia akan mulai berkantor di Wisma Kalla tersebut, namun tetap menjaga kehadiran di beberapa kota strategis lainnya seperti Jakarta dan Padang. Baginya, fleksibilitas lokasi kantor adalah kebutuhan zaman, namun simbol dan semangat tetap harus berasal dari akar, yaitu Sulawesi Selatan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa pusat pertumbuhan ekonomi tak harus selalu berpusat di ibu kota.

Kisah sukses Kalla Group juga menjadi jawaban atas sorotan terhadap bisnis yang dijalankan oleh pejabat dan mantan pejabat negara. JK dengan gamblang menyatakan bahwa kekayaan keluarga Kalla bukan buah dari 3-4 tahun, melainkan hasil dari perjuangan panjang selama 60 tahun lebih. Ia ingin publik memahami bahwa membangun perusahaan besar butuh waktu panjang, bukan hasil instan atau jabatan sesaat.

Transformasi manajemen Kalla Group menjadi salah satu kunci keberhasilannya bertahan hingga kini. Perusahaan tidak lagi dijalankan hanya oleh keluarga, melainkan juga oleh para profesional muda yang diberi ruang untuk berinovasi. Kombinasi antara pengalaman generasi pendiri dan semangat generasi baru menjadi modal penting bagi kesinambungan usaha.

Kalla Group juga dikenal sebagai perusahaan yang memiliki komitmen sosial kuat. Lewat Yayasan Hadji Kalla, mereka aktif di bidang pendidikan, keagamaan, dan kesehatan. JK sendiri selalu menekankan pentingnya berbagi kepada masyarakat, terutama di wilayah Indonesia Timur, sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang telah dicapai.

Sebagai salah satu tokoh nasional, Jusuf Kalla kerap memberi contoh bahwa pengusaha daerah pun bisa berperan besar dalam pembangunan bangsa. Ia menunjukkan bahwa profesionalisme, integritas, dan komitmen terhadap kualitas mampu menjadikan bisnis lokal bersaing di level nasional maupun global. Prinsip ini terus menjadi pegangan utama dalam ekspansi Kalla Group.

Meski tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden, JK tetap aktif memberikan masukan dalam isu-isu nasional. Namun dalam konteks bisnis, ia kini lebih banyak memberikan ruang kepada generasi penerus untuk mengelola dan mengembangkan perusahaan. Ia tetap menjadi tokoh sentral, namun perannya kini lebih kepada pembimbing dan penjaga nilai-nilai perusahaan.

Pengakuan terhadap kiprah Kalla Group bukan hanya berasal dari kalangan bisnis, tetapi juga dari akademisi dan pemerintahan. Grup ini kerap menjadi mitra penting dalam program pembangunan daerah dan nasional. Jejaknya dapat dilihat dalam berbagai proyek strategis, mulai dari pembangkit listrik hingga proyek perumahan rakyat.

Penting dicatat, Kalla Group tidak pernah lepas dari nilai-nilai lokal yang membesarkannya. Spirit Bugis-Makassar yang penuh etos kerja dan loyalitas tetap melekat dalam budaya perusahaannya. Ini menjadikan Kalla Group tidak hanya unggul dalam hal bisnis, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat dan otentik di mata masyarakat.

Ke depan, tantangan tentu akan semakin kompleks. Dunia bisnis bergerak cepat dengan disrupsi teknologi dan perubahan pasar global. Namun Kalla Group tampaknya siap menghadapi era baru ini, dengan terus memperkuat struktur organisasi dan melakukan digitalisasi di berbagai lini bisnisnya.

Dengan usia perusahaan yang hampir seabad, Kalla Group telah menjadi bukti nyata bahwa bisnis keluarga dapat berkembang menjadi konglomerasi yang profesional dan berdaya saing tinggi. Ia bukan sekadar simbol kesuksesan, tetapi juga inspirasi bahwa dengan kerja keras, nilai, dan arah yang jelas, setiap usaha dapat mencapai puncaknya.

Kini, berdiri megah di tengah Kota Makassar, Kalla Tower bukan hanya menjadi bangunan fisik. Ia adalah monumen dari sebuah cita-cita panjang, ketekunan antar generasi, dan bukti bahwa dari timur Indonesia pun bisa lahir kekuatan ekonomi nasional yang diperhitungkan. Kalla Group bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga masa depan.

Dibuat oleh AI

Sabtu, 16 Januari 2010

Grup Hadji Kalla: Konglomerat Timur dengan Gurita Bisnis

    08.50   No comments


Makassar, Indonesia - Grup Hadji Kalla (GHK), sebuah nama besar yang harum di kancah bisnis nasional, terus menunjukkan eksistensinya. Berawal dari Makassar, GHK telah menjelma menjadi konglomerat yang merambah berbagai sektor usaha, dengan Jusuf Kalla, salah satu pendirinya, yang kini dipercaya sebagai Menko di kabinet.

GHK, yang didirikan pada tahun 1952 oleh H. Kalla dan Hj. Atirah, memulai perjalanannya di bidang tekstil. Kini, dengan lebih dari 4.000 karyawan, GHK telah melebarkan sayapnya ke sektor otomotif, elektronik, agroindustri, perdagangan, jasa konstruksi, dan properti.

Perjalanan panjang GHK dimulai dengan nama NV Hadji Kalla Trading Company, sebuah perusahaan keluarga yang kini telah mencapai generasi kedua dan ketiga. Pada tahun 1967, GHK memasuki sektor konstruksi dan properti dengan mendirikan PT Bumi Karsa, yang berhasil membangun jalan trans Sulawesi, bendungan, dan Bandara Hasanuddin.

Pada tahun 1969, H. Kalla merambah bisnis otomotif dengan mendirikan PT Hadji Kalla sebagai agen tunggal pemasaran mobil Toyota di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Kini, perusahaan ini memiliki 18 cabang yang tersebar di wilayah tersebut.

Pada 7 Agustus 1970, GHK mendirikan PT Bumi Sarana Utama, yang bergerak sebagai dealer aspal curah Pertamina di Sulawesi dan Kalimantan. Perusahaan ini juga memiliki armada kapal tanker dan truk sendiri untuk memastikan kelancaran pasokan.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan minat masyarakat terhadap otomotif, GHK menjalin kerja sama dengan produsen otomotif lainnya pada tahun 1996. Mereka mendirikan PT Intim Utama Mobil sebagai dealer mobil KIA, dan PT Makassar Raya Motor sebagai dealer mobil Daihatsu dan Nissan.

Pada tahun yang sama, GHK mendirikan PT Bumi Sarana Beton, yang fokus pada pengembangan kawasan permukiman di Makassar. Untuk melengkapi divisi usaha ini, didirikan pula PT Baruga Asri Nusa Development yang bergerak di bidang properti. Selain itu, GHK juga memiliki dan mengelola hotel melalui PT Sahid Makassar Perkasa, bekerja sama dengan Grup Sahid.

GHK tidak berhenti di situ. Mereka terus melebarkan sayap ke sektor agroindustri melalui PT Makassar Mina Usaha dan PT Duta Sentral Sulawesi Agro, yang masing-masing bergerak di bidang penangkapan dan pengolahan ikan tuna untuk ekspor, serta agrobisnis.

Belakangan ini, GHK merambah ke sektor elektronik melalui PT Kalla Electrical System, serta industri transportasi melalui PT Kalla Lines dan PT Bukaka Lintas Tama.

Menurut Halim Kalla, Direktur Utama PT Makassar Utama Motor, industri otomotif, khususnya produk mobil Toyota, menjadi andalan GHK saat ini. Perusahaan menargetkan peningkatan penjualan mobil Toyota sebesar 3.000-4.000 unit per tahun, sementara PT Makassar Raya Motor dan PT Intim Utama Mobil menargetkan penjualan 300-400 unit per tahun.

Halim Kalla menjelaskan bahwa target tersebut realistis, mengingat merek Toyota telah lama dikenal dan dipercaya oleh konsumen di Makassar. Sementara itu, produk Daihatsu dan KIA masih membutuhkan upaya lebih untuk diterima di pasar Makassar dan wilayah Indonesia Timur lainnya.

Bagi Halim Kalla, bisnis otomotif memiliki prospek yang cerah di Makassar dan wilayah Indonesia Timur. Hal ini terbukti saat krisis ekonomi 1997-1999, ketika penjualan mobil di Makassar justru meningkat karena tingginya daya beli masyarakat akibat larisnya komoditas pertanian dari Sulawesi Selatan.

Meskipun salah satu anggota keluarga besar Kalla menjabat sebagai pejabat tinggi negara, Halim Kalla menegaskan bahwa GHK tidak pernah mendapatkan perlakuan istimewa. Mereka tetap menjalankan bisnis secara profesional dan tidak meminta kemudahan dari pemerintah, untuk menjaga citra positif Jusuf Kalla.

GHK terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan bisnis dan berkontribusi pada perekonomian Indonesia, khususnya di wilayah timur.

Dengan diversifikasi usaha yang luas dan manajemen yang profesional, GHK siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di masa depan.

Dibuay oleh AI

Minggu, 16 Maret 2008

Keluarga Kalla Jajaki Bisnis Mobil Cina

    08.45   No comments
Adik bungsu Jusuf Kalla, Suhaelly Kalla, terjun ke bisnis mobil produksi Cina. Suhaelly dengan perusahaan PT IGC International menjadi distributor mobil merek Geely di Indonesia.

Menurut Suhaelly, keterlibatan dalam bisnis mobil Cina karena peluangnya cukup menarik. Geely mampu menghasilkan produk yang kompetitif dengan harga lebih murah. “Harga sedan dibawah Rp 100 juta tiap unit,” kata Suhaelly, dalam acara peluncuran mobil Geely CK CKD (completely knock down), Jakarta (16/5).

Suhaelly mengaku, terjun ke bisnis otomotif bukanlah yang pertama kali. Puluhan tahun, katanya, dia sudah terlibat dalam perusahaan otomotif. Keluarga Kalla memiliki perusahaan distribusi otomotif dengan bendera NV Hadji Kalla.

Hubungan darah dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kata Suhaelly, tak otomatis dirinya mendapat perlakuan khusus. Hal ini diamini oleh Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Prindustrian Budi Dharmadi. “Tidak ada perlakukan khusus. Hanya mendapat insentif sesuai Peratusan Pemerintah Nomor 1 Tahun2007,” ujar Budi di tempat yang sama.

Peraturan tersebut mengatur fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman untuk penanaman modal dibidang usaha tertentu. PT IGC Coorporation yang ditunjuk sebagai agen tunggal mobil Geely, berdiri tahun ini sebagai usaha patungan antara Indonesia, Malaysia dan Cina.

Hingga kini, IGC masih memproses dealer (agen penjual) yang ditunjuk untuk Geely. Secara resmi Geely CK CKD akan diluncurkan ke pasar Indonesia pada Juli ini dengan fokus wilayah Jakarta dan sekitarnya serta Jawa Barat. Target penjualan pada 2007 sebanyak 2.000 unit.

Rabu, 24 Oktober 2007

Kalla Jajaki Penguasaan Industri Mobil: Berguru Dari Cina

    05.46   No comments
Keluarga Kalla Jajaki Bisnis Mobil Cina
Kamis, 17 Mei 2007 | 09:36 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Adik bungsu Jusuf Kalla, Suhaelly Kalla, terjun ke bisnis mobil produksi Cina. Suhaelly dengan perusahaan PT IGC International menjadi distributor mobil merek Geely di Indonesia.

Menurut Suhaelly, keterlibatan dalam bisnis mobil Cina karena peluangnya cukup menarik. Geely mampu menghasilkan produk yang kompetitif dengan harga lebih murah. “Harga sedan dibawah Rp 100 juta tiap unit,” kata Suhaelly, dalam acara peluncuran mobil Geely CK CKD (completely knock down), Jakarta (16/5).

Suhaelly mengaku, terjun ke bisnis otomotif bukanlah yang pertama kali. Puluhan tahun, katanya, dia sudah terlibat dalam perusahaan otomotif. Keluarga Kalla memiliki perusahaan distribusi otomotif dengan bendera NV Hadji Kalla.

Hubungan darah dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kata Suhaelly, tak otomatis dirinya mendapat perlakuan khusus. Hal ini diamini oleh Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Prindustrian Budi Dharmadi. “Tidak ada perlakukan khusus. Hanya mendapat insentif sesuai Peratusan Pemerintah Nomor 1 Tahun2007,” ujar Budi di tempat yang sama.

Peraturan tersebut mengatur fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman untuk penanaman modal dibidang usaha tertentu. PT IGC Coorporation yang ditunjuk sebagai agen tunggal mobil Geely, berdiri tahun ini sebagai usaha patungan antara Indonesia, Malaysia dan Cina.

Hingga kini, IGC masih memproses dealer (agen penjual) yang ditunjuk untuk Geely. Secara resmi Geely CK CKD akan diluncurkan ke pasar Indonesia pada Juli ini dengan fokus wilayah Jakarta dan sekitarnya serta Jawa Barat. Target penjualan pada 2007 sebanyak 2.000 unit.

Sponsor

Get updates in your email box

Complete the form below, and we'll send you our recent update.

Deliver via FeedBurner